Skip links

Jatuh Cinta Pada Se’i Sapi Lamalera di Gigitan Pertamanya

Tanggal Dipublikasikan: 12/05/2016

Editor/Penulis : Oky Maulana

Dipublikasikan : okymaulana.com

Awal bulan Desember saya pergi ke Bandung untuk kesekian kalinya. Iya, Bandung tetap menjadi pilihan saya untuk berwisata lidah, seperti yang kalian tahu yekan kalau Bandung selalu menghadirkan kuliner baru. Meskipun saya sudah mempunyai beberapa tempat wajib yang didatangi kalau ke Bandung, seperti King Crab di Sudirman Street Night Market dan juga Café D’Pakar.

Pada liburan kali ini saya sangat santai sekali, karena pergi ke Bandung memang niatnya mau jalan-jalan yang dipikirin kemananya pas sampai di Bandung saja. Setelah dua hari di Bandung, ada salah satu teman saya yang bertanya lagi dimana, dan saya jawab dengan baru bangun tidur siang, luar biasa nikmatnya bisa tidur siang dengan cuaca Bandung yang aduhai sejuknya.

Akhirnya, teman saya menganjurkan saya pergi ke Se’i Sapi Lamalera, tanpa bepikir sayapun langsung jalan ke lokasi. Se’i Sapi Lamalera letaknya tidak jauh dari Gedung Sate, dekat dengan lapangan yang disamping Telkom itu, ya. Tempatnya tidak begitu luas, parkiran mobil pun tidak ada sepertinya, kalau parkiran motor ada tapi sudah didominasi oleh driver ojek online. Better kalau pemirsa ke sini tidak usah bawa kendaraan, deh.

Se’i Sapi Lamalera adalah salah satu tempat makan khas Kupang yang ada di Bandung, sayapun pertama kali makan makanan khas Kupang di sini. Menu Se’i Sapi Lamalera terdiri dari Sei Ayam, Sei Sapi, Lidah, dan juga Sei Iga. Sayangnya, waktu saya ke Se’i Sapi Lamalera untuk menu lidah dan iganya habis, padahal saya sampai sana di jam makan siang, lho. Kesal yekan.

Terpaksa saya hanya pesan menu daging dan ayamnya, Se’i Sapi Lamalera juga mempunya berbagai jenis sambal, lho. Ada sambal rica-rica, sambal ijo, sambal matah, sambal lada hitam, dan sambal Lu’at yang khas dari NTT tentunya. Namun, pilihan saya jatuh kepada Sei Sapi Sambal Matah, Sei Sapi Sambal Rica-rica, dan juga Ayam Sambal Ijo.

Menunya terdiri dari ukuran reguler dan juga jumbo, karena saya datangnya berdua, jadinya pilih yang regular saja. Harga di sini masih sangat terjangkau permisa, sekitar dua puluh ribuan, kalau kamu mau ekstra sambal bisa minta tambah dengan tambahan biaya dua ribuan.

Pada penyajiannya diberikan semacam lalapan kembang pepaya dan juga daun singkong, tapi agak percuma buat saya yang kurang suka dengan lalapan tersebut. Tidak lupa juga diberikan kuah kaldu, sayangnya kaldunya tidak begitu terasa.

Se’i Sapi Lamalera sangat pintar dalam memasak dagingnya, karena dagingnya sangat lembut, ukuran potongan dagingnya pas sekali untuk sekali suap, dan tentunya tidak nyangkut di gigi waktu mengunyahnya. Kalau saya ke sana lagi, sepertinya saya akan meminta untuk sambalnya dipisah, tidak dicamburkan dengan dagingnya, jadi bisa saya cocol gitu pemirsa. Duh, membayangkannya saya jadi lapar, deh.

Kalau kamu sedang di Bandung tapi mager datang ke Se’i Sapi Lamalera bisa membelinya lewat delivery di ojek online, sih, tapi saya pribadi lebih suka datang langsung biar makanannya masih hangat-hangatnya kaya hubungan kamu dengan pacar baru kamu itu.

Karena Se’i Sapi Lamalera, saya jadi penasaran dengan makanan khas Kupang lainnya. Apakah pemirsa mempunyai tempat makan khas Kupang yang wajib saya datangi disekitar Jabodetabek? Kalau ada bisa kasih tahu atau kasih tempe juga tidak apa di komentar, ya. Btw, di depan Se’i Sapi Lamalera ada abang-abang yang jualan cilor, lho! Jangan lupa dibeli juga cilornya, karena rasanya tidak diragukan lagi enaknya.

Return to top of page